Trolley Problem
sains di balik kenapa otak kita kesulitan memilih siapa yang harus mati
Bayangkan kita sedang berdiri santai di pinggir rel kereta api. Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara gemuruh. Sebuah trem melaju di luar kendali. Remnya blong. Di depan sana, ada lima orang pekerja yang terikat di rel, tidak sadar akan malapetaka yang mendekat. Kita panik. Namun, tepat di sebelah kanan kita ada sebuah tuas. Jika kita menarik tuas itu, trem akan berpindah jalur. Lima orang tadi akan selamat. Tapi, ada satu masalah kecil: di jalur yang baru itu, ada satu orang yang sedang berdiri. Menarik tuas berarti menyelamatkan lima nyawa, tapi kita secara langsung mengorbankan satu nyawa tak bersalah. Apa yang akan kita lakukan? Tarik tuasnya, atau diam saja?
Skenario di atas bukan adegan dari film aksi, melainkan eksperimen pikiran paling legendaris dalam sejarah filsafat. Namanya Trolley Problem. Diperkenalkan pertama kali oleh filsuf Philippa Foot pada tahun 1967, eksperimen ini dirancang bukan untuk menguji seberapa heroik diri kita, melainkan untuk membongkar cara kerja moralitas manusia. Menariknya, jika pertanyaan ini diajukan ke banyak orang, sekitar sembilan puluh persen dari kita akan memilih untuk menarik tuas. Logikanya sederhana: lima nyawa lebih berharga daripada satu. Matematika moral yang masuk akal, bukan?
Tapi, mari kita ubah sedikit skenarionya. Bayangkan kita tidak sedang berdiri di dekat tuas, melainkan di atas jembatan yang melintang di atas rel. Trem gila itu tetap melaju ke arah lima orang tadi. Di sebelah kita, ada seorang pria bertubuh sangat besar yang sedang melihat ke bawah. Satu-satunya cara menghentikan trem itu adalah dengan mendorong pria tersebut jatuh ke rel. Tubuh besarnya cukup untuk menghentikan laju trem dan menyelamatkan lima orang di bawah sana. Apakah kita akan mendorongnya? Tiba-tiba, persentase orang yang bersedia bertindak anjlok drastis. Hampir tidak ada yang mau mendorong pria itu. Padahal, jika kita pikirkan lagi, secara matematis hasilnya sama persis: korbankan satu untuk menyelamatkan lima. Lalu, mengapa tiba-tiba terasa sangat salah? Mengapa otak kita mendadak menolak keras opsi kedua ini?
Perubahan drastis dalam keputusan kita ini sempat membuat para filsuf garuk-garuk kepala selama puluhan tahun. Di atas kertas, membunuh satu orang dari jarak jauh menggunakan tuas seharusnya sama beratnya dengan mendorong seseorang menggunakan tangan kosong. Hasil akhirnya sama. Tapi, tubuh kita bereaksi berbeda. Saat memikirkan skenario tuas, kita mungkin merasa cemas, tapi kita bisa mengambil keputusan dengan cepat. Namun, saat memikirkan skenario mendorong pria dari jembatan, perut kita tiba-tiba mual. Ada rasa jijik yang mendalam. Keringat dingin mulai keluar.
Rupanya, jawaban dari misteri ini tidak bisa ditemukan di buku-buku filsafat. Kita harus masuk ke dalam lab sains. Pada awal tahun 2000-an, seorang ahli saraf dan psikolog bernama Joshua Greene memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam tengkorak kita saat menghadapi Trolley Problem. Ia memasukkan sekelompok sukarelawan ke dalam mesin fMRI (sebuah alat pemindai otak raksasa) dan membacakan skenario-skenario mengerikan tadi. Greene ingin melihat bagian otak mana yang menyala. Dan apa yang ia temukan dari layar monitornya adalah sebuah pertunjukan fiksi ilmiah yang nyata. Ternyata, saat kita dihadapkan pada dilema ini, sedang terjadi perang saudara di dalam otak kita.
Inilah rahasia terbesarnya: otak kita tidak memiliki satu pusat moral tunggal. Kita memiliki dua sistem berbeda yang saling bersaing untuk mengambil alih kendali. Saat kita memikirkan skenario menarik tuas, bagian otak yang bernama dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC) menyala terang. Ini adalah bagian otak kalkulator kita. Ia dingin, logis, dan sangat rasional. Bagian inilah yang melakukan perhitungan matematika: lima dikurangi satu sama dengan untung empat. Ia melihat situasi ini murni sebagai masalah angka.
Namun, saat skenario diubah menjadi mendorong pria dari jembatan, sebuah alarm purba meledak di kepala kita. Keterlibatan fisik—menyentuh dan mendorong seseorang ke ambang kematian—membangunkan amygdala dan ventromedial prefrontal cortex (vmPFC). Ini adalah pusat emosi, empati, dan rasa jijik bawaan kita. Sistem ini tidak peduli pada matematika. Ia bereaksi secara insting: menyakiti orang lain secara langsung itu salah!
Jadi, alasan mengapa kita tiba-tiba ragu, diam mematung, dan merasa mual bukanlah karena kita tidak tahu apa yang benar. Kita ragu karena "aplikasi matematika" dan "aplikasi empati" di otak kita mengalami crash dan saling bertabrakan. Sirkuit otak kita sedang mengalami korsleting antara logika dingin dan perasaan kemanusiaan yang hangat.
Mungkin teman-teman berpikir, untuk apa kita repot-repot memikirkan kereta yang remnya blong? Toh, kemungkinan kita berada di situasi itu hampir nol. Tapi, Trolley Problem dan perang di dalam otak kita ini terjadi setiap hari dalam bentuk yang berbeda. Saat seorang dokter harus memilih pasien mana yang mendapat ventilator terakhir di ruang ICU. Saat seorang CEO harus memecat seratus karyawan demi menyelamatkan ribuan karyawan lainnya dari kebangkrutan. Atau hari ini, saat para insinyur harus memprogram mobil self-driving (otomatis) tentang siapa yang harus ditabrak jika kecelakaan tidak bisa dihindari.
Pada akhirnya, sains menunjukkan kepada kita sesuatu yang sangat melegakan. Rasa ragu, mual, dan kesulitan kita dalam memilih siapa yang harus mati bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya. Konflik batin itu adalah alarm alami dari evolusi yang memastikan kita tidak berubah menjadi psikopat berdarah dingin yang hanya melihat nyawa sebagai angka-angka di atas kertas. Keterbelahan otak kita, antara logika dan empati, adalah hal yang menjaga dunia ini tetap seimbang. Kebingungan kita di pinggir rel kereta itu, pada hakikatnya, adalah bukti paling nyata dari kemanusiaan kita.